Selasa, 03 Maret 2009

Transplantasi

Transplantasi, Perlu Lebih dari Sekadar Dokter Ahli


Pengobatan kanker mengalami kemajuan pesat dengan ditemukannya regimen kemoterapi dan radioterapi yang cepat mematikan sel kanker. Namun, bagi penderita, pemusnahan sel kanker juga berarti ikut musnahnya sel-sel lain yang sehat akibat terapi, termasuk sel darah yang diperlukan untuk kehidupan.

Karena itu, sejak beberapa tahun lalu, demikian situs National Cancer Institute, para ahli mengembangkan transplantasi sel induk yang diperoleh dari sumsum tulang, sel induk darah perifer, dan tali pusat untuk memulihkan kondisi pasien kanker lebih cepat setelah terapi pemusnahan sel kanker.

Menurut dokter konsultan hemato-onkologi Teo Cheng Peng dari Parkway Cancer Centre, Singapura, tidak semua kanker bisa diterapi dengan transplantasi sumsum tulang. Transplantasi itu hanya efektif untuk leukemia, kanker lifoma, kanker payudara, serta kanker sumsum tulang belakang.

Sumsum tulang adalah jaringan mirip spons dalam tulang. Menurut situs The Cleveland Clinic Health Information Center, sumsum tulang dari tulang rusuk, tengkorak, tulang pinggul, dan tulang belakang mengandung sel induk yang memproduksi sel darah yang diperlukan tubuh; yaitu sel darah merah yang dibutuhkan untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, serta keping darah yang membantu membekukan darah jika terjadi luka.

Sumsum tulang selain diambil dari tubuh sendiri (autologus), juga bisa diambil dari donor yang cocok (alogenik). Pada penderita kanker, misalnya leukemia, sel induknya memproduksi sel darah yang merusak secara berlebihan. Untuk mengeliminasi kanker, penderita diberi kemoterapi atau radioterapi dosis tinggi.

Namun, terapi itu juga merusak sel normal dalam sumsum tulang. Oleh karena itu, setelah kemoterapi atau radioterapi, sel induk dari sumsum tulang ditransplantasikan untuk memulihkan fungsi tubuh.

Transplantasi dilakukan dengan memasukkan sumsum tulang berbentuk darah yang kental dan berwarna gelap lewat pembuluh darah. Sumsum tulang akan masuk ke dalam tulang dan memproduksi sel darah setelah beberapa minggu.

Teo Cheng Peng menuturkan pengalaman mengobati pasiennya, seorang laki-laki berusia 58 tahun penderita kanker sumsum belakang yang nyaris lumpuh.

Sebelum dikemoterapi, pasien itu diambil sumsum tulangnya terlebih dulu. Seusai kemoterapi, sel induk yang berasal dari sumsum tulang disuntikkan kembali. Pasien mulai pulih setelah 10 hari ditransplantasi sumsum tulang. "Kini lelaki itu hidup normal dan bisa beraktivitas kembali," katanya.

Sayang, transplantasi sumsum tulang belum dilakukan di Indonesia. Di Singapura pun hanya 5-10 persen ahli hemato-onkologi yang melakukannya, antara lain di National Cancer Centre Singapore, National University Hospital, Parkway Cancer Centre, dan The West Clinic Excellence Cancer Center.

Menurut Teo Cheng Peng, prosedur transplantasi sumsum tulang memerlukan tim yang kuat. "Tidak cukup hanya dokter ahli hemato-onkologi, tapi perlu tim yang terdiri dari dokter ahli infeksi, ahli ginjal, perawat ahli, petugas laboratorium, didukung laboratorium sel induk serta bank darah yang memadai," ungkapnya.



Sumber: Kompas
Penulis: Atika Walujani Moedjiono


 1 Comments:

Blogger ekofebrian said...

"i love u"

18 Maret 2009 pukul 01.40  

Posting Komentar

<< Home